Sekolahku
Mann memperkenalkan sistem pembelajaran sesuai usia anak dan mulai menggunakan tenaga pengajar yakni guru profesional. Sistem pendidikan inilah yang kemudian diadopsi oleh seluruh negara hingga saat ini. Dan oleh sebab itu pula Horace Mann dikenal sebagai Bapak Pendidikan Modern.
Di Indonesia sendiri, perjalanan didirikannya sekolah umum dan perubahan sistem pendidikan sangatlah panjang. Sekolah pertama yang didirikan di Indonesia adalah sekolah KatolikPportugis pada tahun 1536 yang didirikan oleh penguasa Portugis Antonio Galvao di Ambon. Sekolah bagi anak-anak pribumi ini mengajari anak-anak keterampilan membaca, menulis, dan menghafal agama Katolik Roma.
Seiring dengan perubahan penguasa, karena agama Protestan banyak dianut oleh orang Belanda, pada masa kekuasaannya, VOC banyak membuka sekolah-sekolah berbasis agama protestan yang tersebar di wilayah Indonesia, diantaranya :
Tahun 1607 : Sekolah Bumiputra di Ambon
Tahun 1620 : Sekolah Guru Agama Protestan di Ambon
Tahun 1632 : Sekolah Bumiputra di Betawi (Jakarta)
Sistem pendidikan pada zaman penjajahan
Kemudian pada tanggal 16 Januari 1845, Menteri Belanda J.C. Baud memerintahkan untuk membangun Sekolah Dasar Non-Kristen. Sehingga pada abad ke-19 banyak sekolah-sekolah Non-Kristen bermunculan. Sekolah untuk anak-anak pribumi ini mengajarkan membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan pemetaan.
Sekolah Non Kristen tersebut antara lain :
Tahun 1852 : berjumlah 20 SD Bumiputra yang tersebar di pulau Jawa
Tahun 1900 : berjumlah 533 SD Bumiputra yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia
Tidak hanya sekolah umum untuk warga pribumi, VOC juga mendirikan HIS (Hollandsch Inlandsch School). Sekolah ini didirikan tahun 1914 dan setara dengan sistem pendidikan ELS (Europesche Lagere School). Bedanya adalah sekolah tersebut diperuntukan bagi anak-anak golongan atas (elite) atau orang-orang kaya pada masa kolonial Belanda.
Para penggerak bangsa, tentu tidak tinggal diam. Ki Hadjar Dewantara dan teman-teman di paguyuban Sloso Kliwon mengagas dan mendirikan ‘Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa’ atau yang dikenal dengan nama Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Dikenal sebagai Taman Siswa, sekolah nasional pertama ini bertujuan membantu siswa menghadapi tuntutan kehidupan modern tanpa meninggalkan kebudayaan asli Indonesia.
Karena fokus pada membangun semangat nasionalisme para siswa sebagai generasi muda, Taman Siswa cukup ditakuti oleh pemerintahan Belanda. Prinsip dasar Taman Siswa juga menjadi pedoman guru yang kini dikenal sebagai Patrap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang mendukung).
Sistem pendidikan Taman Siswa menyebar ke seluruh penjuru Nusantara untuk membantu rakyat pribumi yang pada masa itu kesulitan mengenyam bangku pendidikan. Karena jasa beliau inilah Ki Hadjar Dewantara diberi gelar sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.


Komentar
Posting Komentar